Beberapa tahun lalu, merek ponsel Nokia begitu digdaya. Di Indonesia pun cengkeramannya amat kuat. Merek ini, misalnya, pernah mengeluarkan ponsel yang dikenal publik Indonesia sebagai “ponsel sejuta umat”, karena saking populernya. Itu di segmen low end. Di segmen high end, Nokia juga punya produk Nokia Communicator yang sempat begitu fenomenal dan menjadi kebanggaan kalangan eksekutif. Komunitasnya di Indonesia bahkan sangat aktif dan semarak.

Beberapa tahun terakhir, kinerja bisnis vendor ponsel asal Finlandia ini justru melorot. Dan, ini terjadi di seluruh dunia. Tak mengherankan, banyak media ternama di dunia yang membahasnya. Tak sedikit pula yang menunjukkan keheranannya.

Di pasar Indonesia, dominasi Nokia sebagai pemimpin pasar di industri ponsel juga terus digoyang kompetitor. Dari atas ataupun bawah. Di segmen low end, Nokia mendapat ancaman dari berbagai merek ponsel Cina yang dijual dengan harga lebih murah, tetapi dengan tawaran beragam fitur yang menarik―termasuk Nexian yang penjualannya sangat fenomenal. Padahal, di segmen ini Nokia juga telah berusaha memasarkan ponsel dengan harga relatif murah.

Begitu juga di segmen menengah (middle end), Nokia berhadapan dengan LG, Samsung, Sony Ericsson dan Motorola. Sementara itu, di segmen high end, Nokia mendapat tantangan serius, terutama dari smartphone yang sedang moncer: BlackBerry dari RIM dan iPhone dari Apple.

Akibatnya, pangsa pasar Nokia terus tergerus, walaupun hingga saat ini secara keseluruhan di pasar dunia Nokia masih menjadi pemimpin pasar di semua segmen.

Berdasarkan data yang dirilis Gartner, pangsa pasar Nokia di seluruh dunia terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Pada 2008 Nokia masih menguasai 38,6% pangsa pasar dunia dengan total penjualan 472,31 juta unit, sedangkan pada 2009 pangsa pasarnya turun menjadi 36,4% dengan total penjualan 440,88 juta unit. Dan, pada 2010 pangsa pasar Nokia anjlok menjadi 28,9%, walaupun total penjualan sedikit naik menjadi 461,32 juta unit.

Belakangan, kehadiran operating system (OS) Android yang dirilis Google makin mengimpit Nokia. Hampir semua vendor — yang tadinya berbasis OS Symbian — mulai beralih menggunakan OS Android, karena keunggulan platformnya yang bersifat terbuka (open source) dan bisa dipakai di berbagai device. Sebaliknya, Nokia — yang dikenal sebagai salah satu promotor utama Symbian — keukeuh menggunakan Symbian untuk OS-nya. Pasalnya, seperti diklaim Bob McDougall, Country Manager Nokia Indonesia, OS Symbian masih diminati pasar. Alasan lainnya, menurut Bob, Nokia tidak bisa begitu saja meninggalkan Symbian, mengingat OS ini masih digunakan oleh 200 juta orang di seluruh dunia. “Symbian masih tetap yang terbaik hingga saat ini. And we are still the best with our Symbian,” ujar Bob percaya diri. “Kami tak ingin jadi follower. Justru kami yang akan menciptakan tren. Symbian masih menjadi (OS) smartphone terbesar di dunia. Karena itu kami masih menargetkan jutaan ponsel OS Symbian,” kata pria yang menggantikan eksekutif asal Indonesia, Hasan Aula, itu.

Nokia, menurut Bob, juga tidak tergiur mengembangkan PC tablet yang belakangan direspons pasar. Padahal, beberapa vendor lainnya kini telah meraup untung dari produk ini. Misalnya, Apple yang sukses dengan iPad — yang disusul dengan meluncurkan iPad 2– dan Samsung dengan Galaxy Tab-nya. BlackBerry pun merilis Playbook untuk kategori produk PC tabletmya. “Peluang bisnis PC tablet memang cukup menarik. Tapi kami tak ada rencana ke sana. Justru kami akan menciptakan devices yang lebih canggih ketimbang itu,” ujar Bob menyebut alasannya.

Bob tetap pede dan merasa bahwa Nokia hingga saat ini tidak mengalami trouble atau sedang terguncang. Karena itu, lanjutnya, Nokia tidak gugup menghadapi gempuran ponsel Cina, atau risau dengan keberhasilan BlackBerry. Namun, ia mengakui, setiap merek besar pasti memiliki tantangan dalam membangun atau mempertahankan bisnis. “Dan, itu hal biasa dalam sebuah bisnis,” katanya.

Ia pun berkeyakinan, Nokia akan tetap leading karena sudah memiliki diferensiasi dan positioning tersendiri. “Kami punya sejumlah portofolio yang sukses di pasaran. Dari dulu hingga sekarang, tipe-tipe Nokia masih banyak yang diminati.”

Disebutkannya, selain pernah sukses dengan “ponsel sejuta umat” N3210 dan Communicator, belum lama ini Nokia juga meraup sukses dengan Nokia C3, baik dari sisi penjualan maupun top of mind. “C3 is the largest selling handset in Indonesia. C3 terjual 20.000 unit di hari pertama. Dalam lima bulan pertama mampu terjual mendekati 1,4 juta. Ini pencapaian di luar dugaan,” ungkap Bob. Sementara itu, untuk mengulang sukses Communicator, Nokia juga telah merilis smartphone E7.

Kendati begitu, diakui Bob, bukan berarti pihaknya menutup mata dan telinga terhadap kondisi pasar. Pihak Nokia sudah ngeh bahwa persaingan semakin ketat, sehingga perlu disikapi secara lebih serius. Karena itu, beberapa waktu lalu kantor pusat Nokia telah merumuskan strategi untuk mengembalikan dominasi pasarnya.

Strateginya bertumpu pada tiga pilar. Pertama, strategi pengembangan smartphone (smart devices dan mobile phones). Untuk itu, pihak Nokia telah menjalin kemitraan dengan raksasa software Microsoft untuk mengembangkan platform Windows Phone 7 (WP7) di kelas ponsel cerdas dan berkolaborasi membangun ekosistem baru yang berbeda dengan Apple ataupun Android. “Windows Phone 7 merupakan platform yang mudah digunakan dan memiliki kegunaan tinggi,” Bob mengklaim. “WP7 akan menjadi new ecosystem bagi Nokia berinovasi guna mengakomodasi segala keinginan dan kebutuhan masyarakat global. Termasuk di Indonesia,” ia menegaskan. “Bahkan, sebagai pemimpin dalam mobile devices, Indonesia akan menjadi salah satu prioritas pemasaran Nokia WP7.”

Lebih jauh, melalui kemitraan dengan Microsoft ini, Nokia berharap akan banyak inovasi baru yang lahir. Misalnya, aplikasi Nokia Maps akan dilebur dengan layanan mesin pencari Bing milik Microsoft. Lalu, toko aplikasi Nokia Ovi Store akan terintegrasi dengan Microsoft Marketplace. Sebagai penyempurna, Microsoft juga bersiap melepas software development kit (SDK) untuk merangsang para pengembang lokal mengembangkan aplikasi Nokia-Windows.

Andrea Facchini, Direktur Pemasaran Nokia Indonesia, menambahkan bahwa nantinya penggabungan OVI Store dengan Microsoft Marketplace akan menjadi kekuatan hebat. Perhitungannya, akan banyak pengembang aplikasi yang masuk, sehingga kontennya bakal lebih banyak, baik konten lokal maupun global. Andrea menyebutkan, saat ini aplikasi di OVI Store saja setidaknya diunduh sebanyak 1,1 juta per hari di Indonesia dan 4 juta unduhan per hari di dunia. “Kami banyak bekerja sama dengan mobile developer membangun aplikasi yang menarik untuk OVI Store. Salah satu kelebihan Ovi Store adalah aplikasi atau konten yang ada di dalamnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat,” papar Andrea.

Strategi kedua adalah mengusung jurus ”Web for the Next Billion”. Maksudnya, bagaimana Nokia menyediakan aneka gadget/device bagi satu miliar orang berikutnya untuk bisa mengakses Internet. Caranya, membuat ponsel middle-low (featured phones) yang bisa mengakses Internet. Pasalnya, saat ini ponsel menjadi media pertama masyarakat untuk mengenal Internet. Terutama, melalui jejaring sosial. Indonesia memiliki tingkat penetrasi broadband kurang dari 1%, tetapi pengguna Facebook dan Twitter-nya terbesar di dunia.

Maka, untuk Indonesia, Bob berjanji akan menghadirkan lebih banyak ponsel dengan harga lebih murah, tetapi tetap memiliki fitur yang tidak kalah dari smartphone. Pihaknya belajar dari kesuksesan luar biasa Nokia C3. ”Masih banyak yang tidak mampu membeli smartphone. Karena itu, kami akan hadirkan featured phone dengan desain yang tak kalah cantiknya dari smartphone,” demikian janji Bob.

Selain itu, untuk merealisasi strategi “Web for the Next Billion,” Nokia berencana membuka server proxy di Indonesia untuk Ovi Browser. Server proxy yang bertindak sebagai gateway di dunia Internet untuk setiap ponsel Nokia ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bandwidth. Dengan begitu, akses Internet yang didapat akan lebih cepat.

Upaya lain, lanjut Bob, dengan mewujudkan sistem operator billing yang sudah berjalan di Indonesia. Dengan operator billing, pengguna Nokia dapat membeli aplikasi melalui Ovi Store dengan mekanisme potong pulsa. Hal ini tentu saja sangat relevan dengan pasar Indonesia dengan penetrasi kartu kredit masih relatif kecil — baru digunakan sekitar 13 juta penduduk. Selain itu, sistem operator billing akan menjadi kunci ketertarikan developer dalam mengembangkan aplikasi lokal untuk Nokia. Maklum, permasalahan yang acap dikeluhkan para pengembang lokal adalah sistem pembayaran yang belum tersedia dengan baik.

Tak hanya itu, menurut Bob, Nokia juga akan terus mendorong layanan Ovi Life Tools, yakni layanan informasi berlangganan yang dirancang khusus buat negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menawarkan layanan informasi luas yang mencakup info kesehatan, pertanian dan hiburan. “Kami mencoba meluncurkan layanan terbaru ini untuk membantu keluarga Indonesia hidup lebih sehat. Nokia memberikan nilai lebih dan meningkatkan kualitas hidup penggunanya melalui teknologi,” ujarnya.

Strategi ketiga, Nokia menyiapkan teknologi masa depan (distruption technology). Pengembangan strategi ini akan ditangani langsung oleh ahlinya. Bagian dari upaya menyiapkan teknologi masa depan adalah melalui kemitraan antara Nokia dan Intel untuk pengembangan OS berplatform terbuka MeeGo. Selain di smartphone, OS MeeGo ini juga dapat digunakan pada produk notebook hingga televisi.

“Menjadi pemimpin pasar pasti banyak tantangan yang dihadapi, dan tidak bisa berdiam saja,” kata Bob mengakui. “Karenanya, kami memiliki tim yang selalu berusaha menciptakan konsep dan inovasi baru, mendapatkan data pelanggan, fokus, dan menggandeng komunitas atau grup (pengguna).”

Nah, untuk itu, Bob menyebut Nokia juga mengembangkan SDM agar bisa terus berinovasi. Menurutnya, kunci untuk hal ini adalah leadership management. Misalnya, dengan memberdayakan dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada SDM Nokia Indonesia.

Selain itu, ditambahkan Andrea, Nokia akan berusaha menjaga tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia yang tinggi terhadapnya. Caranya? “Kami mencoba mendengar apa kebutuhan dan keinginan masyarakat. Lalu, kami implementasikan,” katanya. (*)

A. Mohammad B.S. & Ario Fajar/Riset: Rachmanto Aris D. & Siti Sumariyati

WWW.SWA.CO.ID