Menjadi tukang becak sejak 1990 tak membuat Harry van Yogya kehilangan semangat untuk terus menggenjot becaknya. Pria kelahiran 20 Januari 1967 ini bahkan berhasil menerbitkan buku The Becak Way pada April 2011 lalu. Dan, saat ini ia laris manis diundang berbagai media massa untuk menceritakan kisah hidupnya yang tak biasa.

Berawal dari keinginannya agar terus dapat membayar biaya kuliahnya di Sanata Dharma Jurusan MIPA pada 1990, pria bernama lengkap Blasius Haryanto (44)  ini kemudian memilih mencari uang tambahan dengan menarik becak pada malam hari, di luar jam kuliahnya. Setahun kemudian, dengan hasil tak menentu akhirnya Harry memutuskan keluar dari kampusnya dan menjadi penarik becak seutuhnya.

Kendati demikian, Harry yang memiliki daya juang tinggi ini tetap menerapkan ilmu yang pernah ia cecap di bangku kuliah selama menjadi tukang becak. Mahir berbincang dalam Bahasa Inggris dan Belanda bukan satu-satunya keahlian Harry, ia pun tak menyia-nyikan fenomena yang tengah menjadi tren saat ini, yaitu menggunakan semua media sosial untuk mempromosikan becaknya.

Kehilangan Istri

Urip itu Urup ”, begitulah Harry mengungkapkan cara ia menjalani hidup yang penuh suka dan duka. Semuanya ia terima dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Bahkan, di saat ia harus kehilangan Sang Istri tercintanya, Anastasia Suyatmi, yang menjadi korban bencana gempa ketika melanda Yogyakarta pada Mei 2006 silam.

Harry memang mengaku amat terpukul dan kehilangan karena ia sama sekali tak pernah menyangka peristiwa kelam itu akan membuatnya banyak kehilangan, termasuk rumahnya rata dengan tanah. Beruntung, Veronika Natalia Agnes, anak ketiganya yang ketika itu masih berusia 5 bulan berhasil diselamatkan. Sementara kedua anaknya yang lain, Lucky Ardian (16) dan Nicholas Kevin Kristianto (13) memang sudah lama tak tinggal di Jogja, melainkan di Jambi bersama neneknya.

“Lucky dan Kevin memang sejak kecil saya titipkan di neneknya, karena ketika itu rumah tangga saya dengan almarhumah istri sedang tidak harmonis. Dari pada memberikan contoh tidak baik, ya, dititipkan saja. Kondisinya waktu itu tidak memungkinkan,” kisah Harry dengan wajah sedih ketika mengingat masa lalunya.

Setelah mengurus pemakaman Sang Istri ketika itu, Harry masih harus memastikan apakah anak terkecilnya yang masih bayi itu benar-benar selamat, sebab ia takut akan kehilangan kembali. Adik sepupunya yang calon pastur, menawarkan untuk merawat Agnes di salah satu yayasan di Jogja. Dan, agar keselamatannya lebih terjamin, Agnes di bawa ke Bogor dan tinggal di Yayasan ABAS hingga usia 10 bulan. Harry pun sempat beberapa kali menjenguk Agnes di Bogor. Karenanya, Harry makin semangat bekerja lebih keras, demi mempersiapkan rumah baru yang layak untuk Agnes berteduh.

“Saya juga dulu sempat berjanji sama Lucky dan Kevin, kami akan segera berkumpul di Jogja. Sayang, gempa keburu merenggut nyawa istri saya. Tapi bersyukur, sekarang rumah itu sudah bisa saya bangun, dua tahun setelah gempa. Cita-cita saya untuk memberikan tempat yang layak bagi mereka bisa terlaksana,” paparnya penuh rasa syukur.

Pada 2008 akhirnya Harry dapat kembali berkumpul bersama ketiga buah hatinya di sebuah rumah yang berhasil dibangunnya dari hasil membecak. Kendati ia tak setiap hari pulang ke rumah karena lebih memilih bermalam dan mencari pelanggan, namun setiap kali mendapat uang Harry langsung menitipkannya ke seorang tetangga yang berjualan di pasar dekat tempat mangkalnya di Jalan Prawirotaman untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

“Untuk efisiensi tenaga dan waktu saja. Kalau harus selalu pulang ke rumah, di hitung-hitung malah boros. Jadi lebih baik saya bermalam di pangkalan saja. Kan, masih bisa menitipkan hasilnya buat anak-anak. Kebetulan Lucky juga sudah kelas 2 SMA, sudah bisa bantu mengurus adik-adiknya,” ujar Harry lirih.

Melek Teknologi

Harry tak pernah merasa kesepian selama mangkal bersama tukang becak lainnya. Harry kerap mengisi waktu selama menunggu pelanggan datang dengan online , membuka email atau berbincang dengan banyak orang melalui layanan Yahoo Messenger dan mIrC. Harry mengaku, bisa memanfaatkan semua layanan online tadi berkat diajari pelanggan setianya, orang Belanda yang secara reguler berkunjung ke Jogja.

Ketika berbagai situs jejaring sosial semakin ramai menjadi alat komunikasi banyak orang, Harry pun mulai membuat akunnya, mulai dari Facebook, Twitter, Friendster, Flixster, Hi5, Tagged. Namun, ia mengaku, Facebook yang paling sering dikunjunginya, bahkan sudah punya dua akun karena akun pertama dengan nama Harry Van Yogya sudah dipenuhi teman. Ia pun membuat akun baru, Harry van Yogya New, yang saat ini sudah memiliki teman sebanyak 2500 orang.

Kebiasaan Harry mengakses berbagai jejaring sosial ini menjadi pemandangan tak biasa sekaligus unik di kalangan para tukang becak di Jogja. “Sebelum punya ponsel pintar yang bisa mengakses berbagai fitur jejaring sosial, saya sering menggunakan jasa warnet yang tidak jauh dari pangkalan. Tapi, sekarang lebih efisien browsing pakai ponsel. Tapi saya pernah kehilangan ponsel dua kali, lho,” ujarnya sambil tertawa.

Setiap jam setidaknya Harry meng-update status di Facebooknya dan memberikan berbagai informasi serta berinteraksi dengan semua teman yang ada di akun Facebook-nya. Mulai dari anak ABG, para ibu rumah tangga, serta wartawan berbagai media massa, tampak kerap menyapa Harry di dinding akun Facebooknya. Menariknya, Harry pun tak pernah membiarkan semua sapaan temannya tak terbalas. Harry dengan senang hati akan membalas semua komentar teman dunia mayanya itu.

“Kalau sedang tak ada penumpang, ya, saya memang selalu menyempatkan diri mengakses dan meng-update  berita agar tidak kehilangan informasi dan komunikasi. Biar pun tukang becak, tapi saya selalu tahu berita terbaru yang sedang hangat. Istilahnya, tukang becak juga bisa melek teknologi,” selorohnya.

Satu lagi kelebihan jejaring sosial Facebook, yang menurutnya bisa membantu dirinya mendapatkan teman dekat (pacar, Red .). Harry mengaku sudah beberapa bulan ini menjalin hubungan dengan seorang wanita yang ia kenal via Facebook. “Kami kenalan, ya, di Facebook. Dia sempat main ke Jogja. Tapi memang belum saya kenalkan ke anak-anak. Soalnya, kalau mau serius dengan saya, syaratnya banyak. Antara lain, harus bisa diterima anak-anak. Kalau memang berjodoh, kan, tak akan ke mana. Jadi, dijalani saja lah,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak cuma itu, fasih berbahasa Inggris dan Belanda juga membuat Harry tampak lebih menonjol di antara tukang becak lainnya, terutama ketika berhadapan dengan turis asing. Harry belajar Bahasa Belanda secara otodidak. Bermula ketika iapernah mengantarkan turis Belanda bernama Loes Wirken yang akan kursus Bahasa Indonesia di tempat Joko Trihardi, yang dikenal pandai berbahasa Belanda.

“Sebagai pengantar, saat itu saya cuma mendengarkan saja, tidak ikut ke kelas. Tapi karena Bahasa Belanda-nya diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan Indonesia, saya jadi bisa ikut belajar. Semakin lama, semakin banyak kosakata yang saya punya. Lalu, saya beranikan diri untuk sering menggunakannya hingga sekarang.”

Salah satu lokasi wisata di Joga, kawasan Prawirotawan yang dikenal sebagai sarang backpacker  dari berbagai penjuru dunia, juga menjadi salah satu lokasi “jajahan” Harry. Banyak turis asing yang meminta jasanya mengantarkan mereka ke berbagai tempat wisata di Jogja, karena komunikasinya dirasa lebih gampang.

“Dengan modal bisa berbahasa asing tentu semakin mempermudah komunikasi dengan para turis luar. Dan biasanya akan berlanjut berkomunikasi via Facebook ketika mereka kembali ke negaranya. Lalu, mereka akan merekomendasikan saya ke teman-teman mereka yang akan berkunjung ke Jogja. Ini jadi sumber rezeki buat saya, secara tidak langsung,” ungkap Harry penuh rasa syukur.

Iseng Menulis

Keunikan Harry tak hanya sampai di situ. Semula, karena berharap ingin mencari uang tambahan, Harry mencoba menulis mengenai aktivitasnya yang sering menggunakan jejaring sosial dengan judul tulisan “Jejaring Sosial di mata Seorang Tukang Becak” dan mengirimkannya ke Harian KOMPAS. Tulisan itu kemudian dimuat di KOMPAS edisi Senin, 8 Februari 2010.

“Setelah tulisan saya dimuat KOMPAS, saya jadi makin semangat menulis dan mengirimkannya ke sejumlah koran lokal. Sayang, hasilnya enggak seperti yang diharapkan. Akhirnya, tercetus, bikin buku saja sekalian, biar lebih banyak yang baca,” katanya

Gayung bersambut, ia pun bertemu pria bernama Sonny Set, yang kemudian mengenalkan Harry ke penerbit. Dalam hitungan bulan, Harry sudah bisa menerbitkan bukunya, The Becak Way . “Saya bangga karena buku saya diberi kata pengantar oleh Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, bahkan Rektor Kolase de Brito Joseph Ageng Marwata SJ memberi laptop agar saya bisa terus menulis.”

Kini, di sela kegiatannya menarik becak, Harry memiliki kegiatan baru. Yakni melayani berbagai media nasional, bahkan internasional yang tertarik mengisahkan lika-liku kehidupannya. “Saya masih Harry van Yogya atau Harry dari Yogya seperti dulu, tidak ada yang berubah. Kalau ada seminar atau promo buku, terpaksa saya tidak menarik becak. Tapi sehari-harinya, ya, saya tetap mangkal mencari penumpang,” ujarnya rendah haTI

http://www.tabloidnova.com