Tags

Brand Positioning adalah posisi brand dalam benak pelanggan. Apa yang ada di benak mereka ketika teringat akan brand kita. Hasil akhir dari positioning adalah keberhasilan dalam menciptakan fokus dalam benak konsumen konsumen serta alasan yang kuat mengapa konsumen harus membeli produk. Nokia dipersepsikan sebagai produk ponsel terbaik di dunia, Aqua sebagai air mineral paling bermutu, dan Porsche sebagai salah satu mobil sport terbaik di dunia.

Namun demikian, acapkali para pemasar gagal melakukan positioning yang pas dalam benak konsumen. Disini kita dapat mengidentifikasi adanya empat jenis kesalahan positioning.

1. Underpositioning: Dalam hal ini fitur yang hendak ditonjolkan untuk membangun positioning dianggap bukan hal yang terlalu istimewa. Saat Pepsi memperkenalkan Crystal Pepsi tahun 1993, konsumen tidak terlalu terkesima. Mereka tidak melihat “clarity” atau “kemurnian” sebagai sesuatu yang penting dalam produk softdrink

2. Overpositioning: Disini produk memiliki citra yang terlalu tinggi dalam benak konsumen, dan karenanya dianggap diatas jangkauan daya beli mereka. Para pelanggan berpikir bahwa semua cincin Tifanny dijual mulai harga $5000, meskipun dalam kenyataannya Tiffany saat ini dapat diperoleh dengan harga mulai $1000

3. Confused positioning: Dalam hal ini, pelanggan bingung dengan citra brand karena terlalu banyaknya klaim atau perubahan brand positioning yang terlalu sering. Hal ini yang terjadi pada komputer desktop NeXT yang hebat. Ketika pertama kali dilaunch, produk ini diposisikan untuk para mahasiswa, kemudian diubah menjadi untuk para engineer, dan kemudian kepada orang bisnis; dan semuanya tidak berhasil

4. Doubtful positioning: Disini pelanggan merasa sulit untuk mempercayai klaim sebuah brand dalam kaitannya dengan fitur suatu produk, harga, atau manufakturnya.