1. The Thin Blue Line

Tidak ada yang menyangkal ‘The Thin Blue Line’ mampu membuat perbedaan yang sangat berpengaruh, setidaknya untuk kehidupan seseorang. Film yang dirilis pada 1988 itu menceritakan kisah Randall Dale Adams, seorang pria yang salah dihukum mati atas pembunuhan seorang perwira polisi Dallas.

Menggunakan penelitian yang mendalam, sutradara Errol Morris menggunakan film tersebut untuk menggambarkan bahwa saksi mata dari kasus itu tidak dapat diandalkan. ‘The Thin Blue Line’ juga mengungkapkan, sejumlah saksi-saksi lain dalam persidangan telah melakukan sumpah palsu.

Adams akhirnya diberi kesempatan untuk mengulang proses persidangan kasusnya. Hasilnya, ia dibebaskan dari tuduhan pembunuhan, dan diberikan kembali kebebasannya. Film ini sekarang dianggap sebagai gaya klasik dari genre dokumenter, dan pendalaman investigasi di TKP sangat mempengaruhi film berikutnya, juga acara televisi.

2. The Birth of A Nation

Film karya sutradara D.W. Griffith yang dirilis pada 1915 silam ini masih dikreditkan sebagai salah satu film paling berpengaruh yang pernah dibuat. ‘The Birth of A Nation’ mengisahkan peristiwa seputar Perang Saudara Amerika, pembunuhan Abraham Lincoln, dan pembentukan Ku Klux Klan.

Film bisu ini sukses besar, namun kemudian berada di bawah pengawasaan karena ketidakakuratan sejarah dan soal rasisme. Sejumlah organisasi kemudian mengutuknya, termasuk NAACP dan film ini dilarang rilis di sejumlah kota di AS.

Di Boston dan Philadelphia, kerusuhan sering pecah. Setidaknya satu orang kulit putih dibunuh seorang remaja berkulit hitam setelah melihat film tersebut.

Menurut seorang wartawan, ‘The Birth of a Nation’ memberikan kontribusi dalam sebagian besar reformasi Ku Klux Klan pada 1920-an, dan dikatakan bahwa Klan tersebut menggunakan film sebagai alat perekrutan anggota selama beberapa tahun.

3. Triumph of The Will

Triumph of Will adalah contoh utama yang menunjukan bagaimana seni digunakan untuk tujuan kejahatan. Film dokumenter tersebut menggambarkan tentang Kongres Partai Nazi pada 1934 di Nuremberg, Jerman.

Film ini merupakan propaganda yang disusun secara hati-hati yang dirancang untuk memenangkan ideologi Adolf Hitler. Diawali dengan kedatangan sang diktator dalam sebuah perayaan di kota, dan pidato oleh para pemimpin Nazi, parade tentara SS, serta cuplikan dari banyak cara bahwa orang-orang Jerman bersatu dalam mendukung Reich ketiga.

Film ini sangat tidak disarankan untuk dipromosikan di luar Jerman. Namun, ‘Triumph of Will’ dianggap membantu mengungkap pribadi di sekitar Hitler, serta menciptakan ilusi dukungan penuh untuk kebijakan-kebijakannya.

4. The Battle of Algiers

Dirilis pada 1966, ‘The Battle of Algeirs’ adalah salah satu film terbaik yang jarang diketahui orang. Film ini berkisah tentang perang kebebasan Aljazair pada 1950, ketika para revolusioner pejuang kemerdekaan memulai kampanye gerilya melawan penjajah Prancis.

Karena dianggap mengandung unsur provokasi, film ini dilarang tayang di Prancis selama lima tahun setelah rilis, dan dikutuk oleh sejumlah pejabat pemerintah. Dekade 60-an adalah masa dekolonisasi besar-besaran di seluruh dunia, dan banyak yang mengklaim bahwa ‘The Battle of Algiers’ muncul sebagai semacam manual untuk mengobarkan perang gerilya.

Kelompok-kelompok seperti Black Panthers dan Tentara Republik Irlandia disebut-sebut menggunakan beberapa taktik yang ada di film itu. ‘The Battle of Algeirs yang disutradarai Gillo Pontecorvo itu bahkan diputar di Pentagon pada 2003 sebagai contoh masalah yang dihadapi oleh militer AS di Irak.

5. An Inconvenient Truth

Film dokumenter karya sutradara Davis Guggenheim ini bercerita tentang Mantan Wakil Presiden AS Al Gore yang membahas kemungkinan bahaya pemanasan global menjadi sebuah fenomena budaya. Selain menjadi film dokumenter terlaris keempat tertinggi dalam sejarah AS, ‘An Inconvenient Truth’ dianggap meningkatkan kesadaran akan masalah di seluruh dunia.

Isu perubahan iklim juga menjadi subjek utama perdebatan dalam kampanye politik berikutnya.

Dalam beberapa tahun setelah film tersebut dirilis, ‘An Inconvenient Truth’ menjadi rekomendasi untuk pejabat pemerintah di sejumlah negara Eropa. Bahkan beberapa sekolah tinggi di AS juga menggunakan kontroversi dalam film tersebut sebagai bagian dari kurikulum sains.

6. JFK

Film yang berkisah tentang pembunuhan Presiden John F. Kennedy ini disebut-sebut menjadi film paling kontroversial yang pernah dibuat ketika dirilis pada 1991 silam. Bahkan sebelum dirilis, kritikus dan sejarawan menyerang teori yang menuduh adanya konspirasi pemerintah di balik pembunuhan Sang Presiden.

Sutradara Oliver Stone menerima ancaman pembunuhan yang tak terhitung, dan Presiden MPAA bahkan menulis sebuah artikel yang membandingkan dengan film propaganda perang Nazi. Semua perhatian media berpengaruh pada kesuksesan film tersebut, dan membantu untuk memulai kembali perdebatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Dallas pada 1963 silam.

Sebagai hasilnya, sebuah dewan dibentuk untuk menginvestigasi pembunuhan tersebut. Mereka mengumpulkan catatan sejarah yang terkait dengan pembunuhan, dan menyediakannya sebagai informasi untuk umum. Namun lama-kelamaan berkas informasi tersebut tak lagi diinformasikan, dan semua catatan yang tersisa tidak akan dirilis sampai 2017.

7. Harlan County, USA

Film dokumenter karya sutradara Barbara Kopple, ‘Harlan County, USA’ mungkin memberikan dampak yang cukup besar usai dirilis. Film yang dibuat di awal dekade 70-an itu membuat 180 penambang batu bara di pedesaan Kentucky mogok kerja untuk menuntut kondisi kerja yang lebih aman, dan pembayaran yang lebih baik.

Pemogokan itu urusan panjang dan pahit, dengan sejumlah tindak kekerasan yang dialami para pekerja sebagai konsekuensinya. Setelah salah satu dari penambang ditembak mati, beberapa kompromi akhirnya tercapai.

Beberapa insiden kekerasan itu dihindari hanya kru filmnya hadir sebagai saksi. Film ini memenangkan Academy Awards untuk Best Documentary pada 1976. Keberhasilannya membantu para penambang di Harlan County serta bagian lain dari negara tersebut menumbuhkan kesadaran publik untuk menjamin kondisi kerja yang lebih aman.

8. 2001: A Space Odyssey

Mungkin sulit untuk dibayangkan sekarang, tapi ketika dirilis pada 1968, ‘2001: A Space Odyssey’ adalah salahsatu film paling inovatif, imajinatif, dan benar-benar film membingungkan yang pernah dibuat. Film yang disutradarai Stanley Kubrick itu juga mengambil bagian dalam misi ruang angkasa ke Saturnus.

‘2001: A Space Odyssey’ dipuji karena perhatian terhadap detail dan realisme ilmiah, seperti penggunaan sejumlah teknologi yang diperkirakan seperti TV layar datar dan perangkat lunak pengenalan suara.

Pengaruhnya terhadap film kemudian beragam, namun yang paling penting merebut imajinasi publik tentang kemungkinan perjalanan ke ruang angkasa. Saat para ilmuan NASA dengan Apollo 11 mendaratkan diri di bulan setahun kemudian, para astronot menggambarkan pemandangan di sana sebagai “persis seperti (film) 2001.”

9. Rosetta

Meskipun tidak terlalu terkenal, film yang disutradarai Jean-Pierre dan Luc Dardenne itu menimbulkan sedikit keributan saat dirilis pada 1999 lalu. Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Rosetta yang meninggalkan rumah untuk melarikan diri ibunya yang seorang pecandu alkohol.

Rosetta mencoba untuk menemukan pekerjaan, dan bertahan hidup sendiri. Penggambaran perjuangan dalam karakternya terasa begitu realistis hingga memenangkan Palm d’Or di Festival Film Cannes. ‘Rosetta’ juga mampu menginspirasi hukum baru di Belgia bahwa pengusaha dilarang membayar pekerja remaja kurang dari upah minimum.

10. Super Size Me

Film dokumenter perdana sutradara Morgan Spurlock ini melakukan percobaan untuk melihat apa yang akan terjadi jika dia hanya makan makanan dari McDonald selama sebulan. Hasilnya, berat badan Spurlock naik 20 pound, mengalami depresi, dan kerusakan hati.

‘Super Size Me’ juga meneliti cara makanan cepat saji itu dipasarkan, dan budaya gizi buruk serta kecanduan yang dipromosikan restoran tersebut. Film yang dirilis pada 2004 itu sukses besar dengan pendapatan US$ 30 juta dari modal yang tak lebih dari US$ 2 juta. Film tersebut juga membantu untuk kembali memicu kekhawatiran publik atas epidemi obesitas.

Kurang dari enam minggu setelah ‘Super Size Me’ rilis, McDonald menghentikan pilihan ‘Super Size’ dari menu mereka (meskipun restoran tersebut menyangkal bahwa langkah ini ada hubungannya dengan film). Dan sejak itu, McDonald telah membuat langkah-langkah untuk menyertakan makanan alternatif yang lebih sehat dalam menu mereka.

http://www.detik.com